Energipos.com/Batubara/Bisnis

shadow

Harga Masih Rendah, Pengusaha Sayangkan Rencana Kenaikan Royalti Batubara

ENERGIPOS.COM, Jakarta–Rencana kenaikan royalti batubara disayangkan Ervina Fitriyani, General Manager PT Bina Insani Sukses Mandiri (BISM). Pasalnya saat ini harga jual masih rendah, sehingga bisa membuat penambang menghentikan produksi.

“Selisih antara biaya produksi dan harga jual sangat tipis. Bahkan ada produsen yang biaya produksinya lebih tinggi dari harga jual,” jelas Ervina. Dia mengingatkan jika para penambang memilih menghentikan produksi maka akan menimbulkan PHK massal. Ia mencontohkan untuk PT BISM misalkan, dengan GAR 3.000-3.100, cost produksinya adalah 18 dolar AS-20 USD per ton. Sementara harga jualnya 26 USD per ton, kemudian ditambah biaya untuk transhipment 10 persen per ton. Pada saat bersamaan, perusahaan juga harus mengeluarkan uang untuk kegiatan sosial dan CSR.

“Dalam kondisi apapun, perusahaan tetap harus mengeluarkan untuk biaya sosial. Masyarakat tidak peduli apakah kita sedang untung ataupun rugi,” ungkapnya. Di wilayah Kutai Barat disepakati bahwa dana yang dikeluarkan perusahaan untuk program sosial, minimal 0,2 persen dari pendapatan. Kondisi itu membuat mayoritas produsen batu bara kalori rendah menolak rencana kenaikan royalti tersebut. Sebab situasi pasar masih belum pulih atau belum membaik.

Padahal, untuk wilayah Kalimantan Timur dan mayoritas batu bara di Indonesia, 60 persen batu bara kalori rendah. Hanya sekitar 35 persen hingga 40 persen batu bara kalori tinggi. Pemerintah berencana menaikkan royalti batubara untuk Izin Usaha Pertambangan (IUP) setara dengan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B). Selain itu, pembayarannya diberlakukan sebulan lebih dahulu sebelum pengapalan.(ris/ant)

Baca Juga